Rabu, 21/12/2011 20:27 WIB
Mempopulerkan Kembali Lagu Anak-anak Bersama Situs Mari Nyanyi
Lagu-lagu anak pada situs ini dapat diunduh secara cuma-cuma.
Oleh: Reno Nismara
Jakarta - Didasari dengan rasa kecemasan dan kekhawatiran atas fakta bahwa anak-anak kini lebih sering menyanyikan lagu bertema dewasa dibanding lagu anak, komposer Djito Kasilo, yang sempat menulis lagu untuk drama operet TVRI, dengan bantuan Pungkas Riandika memutuskan untuk melestarikan lagu anak dengan meluncurkan situs www.marinyanyi.com.
“Dengan kondisi sekarang yang lebih mudah untuk mendapatkan informasi dari segala arah, anak jadi lebih mudah mengonsumsi lagu orang dewasa. Kami juga ingin memanfaatkan kemudahan informasi tersebut untuk Mari Nyanyi, apalagi lagu-lagu anak yang ditulis Ayah Djito (panggilan Djito Kasilo) ini dapat diunduh secara gratis,” ujar Pungkas pada konferensi pers peluncuran situs ini di XXI Lounge, Plaza Senayan, Jakarta pada Rabu (21/12).
Djito menimpali, “Menyalahi hukum alam itu dosa besar lho. Berarti nak kecil menyanyikan lagu dewasa itu dosa besar. Kita tidak bisa membiarkan hal itu, oleh karena itu perlu ada lagu-lagu anak baru.”
Pungkas lalu melanjutkan bahwa Mari Nyanyi ini merupakan gerakan gotong royong di mana orangtua dan guru-guru Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak, maupun Sekolah Dasar juga mengajari anak-anaknya bernyanyi. Selain itu, ada juga laman Request di mana orang dewasa dapat memberikan suatu tema lagu untuk ditulis aransemennya.
Sebagai contoh, ada lagu “Gosok Gigi” dan “Korupsi” yang Djito tulis setelah ada permintaan. Sebagai catatan, ada lebih dari lima puluh lagu anak yang tersedia di Mari Nyanyi, semuanya lagu baru gubahan Djito.
Selain Djito dan Pungkas selaku pencetus Mari Nyanyi, konferensi pers ini juga dihadiri oleh Seno M. Hardjo yang memiliki jabatan sebagai salah satu Board of Directors Anugerah Musik Indonesia, anggota komisi X DPR yang juga merupakan seorang penyanyi Tere, dan figur acara musik anak pada dekade ’90-an, Kak Nunu.
Seno, dari sudut pandang Anugerah Musik Indonesia, mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya lagu anak dengan mengatakan: “Selama beberapa tahun berturut-turut, entri lagu anak ke Anugerah Musik Indonesia itu tidak pernah sampai lima. Alhasil, kategori tersebut terpaksa dihapuskan. Sekarang sudah mulai kembali bermunculan, tetapi lagu-lagunya daur ulang. Oleh karena itu, kita harus senang dengan kehadiran Mari Nyanyi.”
“Lagipula, ini harus digarisbawahi, media untuk memutar lagu anak sudah tidak ada. Acara off-air lomba menyanyi saja, anak-anaknya malah menyanyikan lagu-lagu dari 7 Icons atau Cherry Belle,” lanjutnya.
Selain situs Mari Nyanyi, Djito juga sudah menyiapkan “Gerakan Berbagi CD” di mana ia mengajak anak-anak dan orangtuanya yang berkecukupan untuk menyisihkan uang jajan guna membeli CD-R. CD kosong tersebut pun dapat diisi dengan lagu-lagu yang telah diunduh gratis dari Mari Nyanyi dan lalu dapat disumbangkan ke anak-anak yang kurang mampu.
“Saya baru mengumumkan gerakan itu kemarin lho, tapi hari ini sudah ada saja yang mulai,” imbuh Djito terkejut sekaligus bangga.
Mari Nyanyi juga sudah menyiapkan tiga maskot yang masing-masing diberi nama Si Koko yang menggenggam keytar sebagai alat musiknya, Si Sisi yang duduk di balik seperangkat alat drum, dan Si Bubu yang berlaku sebagai vokalis.
“Dengan kondisi sekarang yang lebih mudah untuk mendapatkan informasi dari segala arah, anak jadi lebih mudah mengonsumsi lagu orang dewasa. Kami juga ingin memanfaatkan kemudahan informasi tersebut untuk Mari Nyanyi, apalagi lagu-lagu anak yang ditulis Ayah Djito (panggilan Djito Kasilo) ini dapat diunduh secara gratis,” ujar Pungkas pada konferensi pers peluncuran situs ini di XXI Lounge, Plaza Senayan, Jakarta pada Rabu (21/12).
Djito menimpali, “Menyalahi hukum alam itu dosa besar lho. Berarti nak kecil menyanyikan lagu dewasa itu dosa besar. Kita tidak bisa membiarkan hal itu, oleh karena itu perlu ada lagu-lagu anak baru.”
Pungkas lalu melanjutkan bahwa Mari Nyanyi ini merupakan gerakan gotong royong di mana orangtua dan guru-guru Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak, maupun Sekolah Dasar juga mengajari anak-anaknya bernyanyi. Selain itu, ada juga laman Request di mana orang dewasa dapat memberikan suatu tema lagu untuk ditulis aransemennya.
Sebagai contoh, ada lagu “Gosok Gigi” dan “Korupsi” yang Djito tulis setelah ada permintaan. Sebagai catatan, ada lebih dari lima puluh lagu anak yang tersedia di Mari Nyanyi, semuanya lagu baru gubahan Djito.
Selain Djito dan Pungkas selaku pencetus Mari Nyanyi, konferensi pers ini juga dihadiri oleh Seno M. Hardjo yang memiliki jabatan sebagai salah satu Board of Directors Anugerah Musik Indonesia, anggota komisi X DPR yang juga merupakan seorang penyanyi Tere, dan figur acara musik anak pada dekade ’90-an, Kak Nunu.
Seno, dari sudut pandang Anugerah Musik Indonesia, mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya lagu anak dengan mengatakan: “Selama beberapa tahun berturut-turut, entri lagu anak ke Anugerah Musik Indonesia itu tidak pernah sampai lima. Alhasil, kategori tersebut terpaksa dihapuskan. Sekarang sudah mulai kembali bermunculan, tetapi lagu-lagunya daur ulang. Oleh karena itu, kita harus senang dengan kehadiran Mari Nyanyi.”
“Lagipula, ini harus digarisbawahi, media untuk memutar lagu anak sudah tidak ada. Acara off-air lomba menyanyi saja, anak-anaknya malah menyanyikan lagu-lagu dari 7 Icons atau Cherry Belle,” lanjutnya.
Selain situs Mari Nyanyi, Djito juga sudah menyiapkan “Gerakan Berbagi CD” di mana ia mengajak anak-anak dan orangtuanya yang berkecukupan untuk menyisihkan uang jajan guna membeli CD-R. CD kosong tersebut pun dapat diisi dengan lagu-lagu yang telah diunduh gratis dari Mari Nyanyi dan lalu dapat disumbangkan ke anak-anak yang kurang mampu.
“Saya baru mengumumkan gerakan itu kemarin lho, tapi hari ini sudah ada saja yang mulai,” imbuh Djito terkejut sekaligus bangga.
Mari Nyanyi juga sudah menyiapkan tiga maskot yang masing-masing diberi nama Si Koko yang menggenggam keytar sebagai alat musiknya, Si Sisi yang duduk di balik seperangkat alat drum, dan Si Bubu yang berlaku sebagai vokalis.
